Hujan
Malam ini hujan membasahi tanah
kesayangan milik kakek yang tak begitu luas. Tak begitu deras memang,
butirannya halus, kanan-kiri-kanan bergerak mengikuti angin yang begitu lembut.
Aku terduduk di balik jendela kamar atas yang besar memandang hujan. Hujan kali
ini terlihat begitu romantis, namun ku rasa lima belas atau dua puluh menit
lagi anginnya bertambah kencang, butirannya membesar, jumlah yang jatuh juga
akan semakin banyak.
Suasana senja mendung ini
membuatku tak kuasa kembali ke delapan bulan lalu, saat kau tak tahu ‘ini’ dan
aku tak peduli juga. Dari ‘mention follback’ di twitter. Beralih menjadi
kata-kata singkat yang ku sampaikan di
fb, ucapan selamat ulang tahun yang sangat padat dan setelah itu tak ada cerita yang mengisi
lagi.
Hingga satu bulan kemudian
beralih lagi ke twitter, membahas tentang penjurusan ala anak-anak SMA labil.
Tak lama, ‘mention’ penjurusan berubah menjadi sedikit tak jelas dan merembet
ke ‘dirrect message’ yang berujung pada dua belas digit nomer yang kau beri.
Tak berselang lama, satu-dua
karakter sms kita berumpan balik. Dari yang hanya bertanya apa yang sedang aku
atau kamu lakukan semakin lama menjadi bentuk perhatian yang lebih besar dan di
harapkan. Dari yang hanya aku-kamu semakin lama menjadi panggilan-panggilan aneh
yang tadinya tak pernah dengan sengaja digunakan. Dari yang datar dan tawar
semakin lama menjadi manis dan dengan hati. Dari yang tak saling menanti
semakin lama semakin berharap dan menanti. Semakin lama semakin sering, indah,
dan bahagia. Oh, kurasa saat itu aku jatuh cinta ... Perasaan itu kian
menjadi-jadi, tak berkurang, malah rasanya bertambah terus terus dan terus.
Adzan maghrib memenuhi cakrawala,
ku ingat bahwa ini salah satu hobi mu – adzan. Beberapa waktu lalu kau bahkan
menunjukkkan kebolehanmu adzan di sekolah tercinta. Membuatku semakin jatuh hati
dan terkagum. Aku bergegas mengambil air wudlu dan melaksanakan kewajibanku
untuk bersujud. Berdoa seperti biasanya, doa yang tujuh bulan ini
menghadirkanmu dalam untaian kata-katanya lalu kembali lagi ke balik jendela
yang menantiku untuk bersama melihat hujan yang kini semakin deras.
Hujan ini seperti aku-kamu, kita,
kini. Tiga minggu ini kau menghilang, bukan, bukan kau yang menghilang, takdir
yang membuatmu hilang. Yaa.. handphone mu mati, rusak. Kita memanng sekolah di
tempat yang sama, kita bahkan bisa berbicara sesuka hati jika kita mau, namun
ku tahu kau pasti memikirkan apa yang akau pikirkan juga jika hal itu terjadi.
Hanya dapat saling melihat, tanpa sapa. Namun saat itu juga teman-teman mulai
mengetahui tentang kita. Tak ada yang menyangka, bagaimana bisa aku dengan
sejuta buku-buku pelajaran yang memenuhi otakku dan selalu memperlakukan buku
lebih dari caraku memperdulikan manusia demi angka-angka yang dapat di
banggakan di akhir semester dapat berjalan bersamamu, yang selalu memperdulikan
akhlak lebih dari memperdulikan dirimu sendiri dan selalu mengutamakan caramu
berhubungan dengan Tuhan setiap detik daripada caramu berhubungan dengan
orang-orang disekitarmu.
Terbongkarlah satu lagi kisah
cinta di sekolah, dan kali ini milik kita, yang sudah kita pendam tujuh bulan
dengan sangat dalam agar tidak diketahui. Saat itu seakan-akan kisah kita yang
menjadi favorit. Mereka masih dengan pertanyaan yang sama, bahkan aku juga
bertanya hal yang sama pada diriku sendiri. Aku dan kamu, manusia yang tak
perduli hati, namun serasi. Aku dengan akhlak biasa saja, kau dengan akhlak
yang membanggakan. Kau dengan nilai yang biasa saja, aku dengan nilai yang
membanggakan.
Setelah tiga minggu, kemarin lusa
malam handphoneku bergetar, kau, memberi kabar bahwa handphonemu sudah sembuh.
Bahagia? Pasti. Malam itu kita bercerita banyak, menceritkan hal-hal yang
terjadi selama tiga minggu ini. Aku memberi tahumu nilai-nilai yang ku dapat
saat penerimaan rapot lalu, mendadaknya aku yang ditunjuk menjadi perwakilan
olompiade ekonomi, bagaimana mati-matiannya aku mengerjakan latihan-latihan
soal yang kudapatkan, bagaimana perasaanku saat berhadapan dengan hari H,
tempat-tempat yang ku kunjungi saat liburan bonus, dan masih banyak lagi. Kau
tak mau kalah, bercerita bagaimana bingungnya menghadapi tugas yang menumpuk,
kegiatan remaja masjid yang kian padat, bagaimana perkembangan kucingmu yang
benar-benar kau sayangi, bagaimana ribetnya membantu teman-temanmu, ini-itu.
Kita seperti telahsangat lama tak
berkomunikasi.
Kemarin sore handphone ku
bergetar lagi, pasti kau dan benar saja. Saling mengirim umpan balik. Satu,
dua, tiga berjalan lancar, namun saat sampai pada kata-katamu yang ke empat..
“Gimana
kalo ada cewek lain yang suka aku ? Nggak marah kan ?” katamu.
“Enggak
akan marah, itu haknya. Asal kamu enggak, kamu suka dia ? Aku ?”
“Aku
suka keduanya. Dia temen rumahku.” Mendengar itu rasanya seperti ditampar.
Sakit. Dan tak terasa air mataku menitik.
Aku terlalu bingung dan ku jawab dengan cepat,
“Tapi nggak bisa dua-duanya.”
“Dia bilang mau nunggu aku sampai
lima tahun lagi.”
“Aku lebih!” tanpa pikir panjang
aku menjawabnya.
“Yakin?” tanyamu.
“Entahlah. Aku terlalu egois kalo
yakin, tapi aku juga gamau nyerah. Ini bukan waktunya nyerah kan ? Perang baru
aja dimulai !”
Kau hanya diam tak menjawab.
“Jujur. Aku udah bisa bertahan tujuh bulan kayak gini
tapi aku bahkan ga yakin lima menit lagi aku masih bertahan atau endak. Baru
tujuh bulan ngejalani hubungan yang tak pasti ini aja aku sudah terlalu sering
ngeluh. Aku gabisa njamin. Aku juga heran, kenapa dia bisa njamin kalo dia bisa
bertahan selama itu, padahal dia baru deket sama kamu beberapa waktu ini. Dia
hebat, pasti dia baik, nggak kayak.. hm,” Lanjutku.
“Kalian
berdua baik.”
“Tapi
diantara yang baik ada yang terbaik! Ini soal hati.” sergapku.
Kau
jawab dengan sangat pasrah, “Aku minta maaf kalo aku ngerusak semua, aku
bingung.”
“Oh
ngga ada yang salah. Aku cuma heran kenapa kamu bilang semua ke aku, kalo
niatnya ngebantu kamu ngambil keputusan ya jelas aku monopoli diri sendiri
maunya. Tapi aku tau kamu lebih tau.”
“Maaf
ya,” jawabmu dengan sangat halus.
Aku
tahu kau diseberang sana bingung dan ku alihkan pembicaraan ini ke hal-hal
konyol yang seharusnya tak dibahas. Saat handphone mati, aku berfikir bimbang.
Seperti perasaanmu yang kini juga bimbang. Entah nanti akankah selalu ada yang
menunggumu setiap pagi di gerbang sekolah saat nanti kau sudah memilih, akankah
selalu ada yang berjalan membuntutimu ke kantin saat kau sudah memilih, akankah
selalu ada yang lewat di depan kelasmu dan mencarimu saat kau sudah memilih,
akankah selalu ada yang pura-pura membuang sampah atau ke kamar mandi tiap kau
di luar kelas saat kau sudah memilih. Seperti aku.
Hari
ini ku pilih diam dan tak menghubungimu. Kau juga hilang dan tak menghubungiku.
Kita sama-sama berpikir. Aku tak apa jika nanti kau pilih dia, kau tahu apa
yang terbaik untukmu, untuk hatimu. Tak ada yang kusesalkan. Ku berjalan menuju ruang atas, melihat
mendung dari balik jendela. Menghitung titik-titik air yang jatuh menyerempet
jendela dan duduk dibalik jendela. Menuliskan kisah kita. Menikmati hujan yang
halus dengan angin sejuk hingga berubah menjadi badai seperti ini. Kembali ke
masa awal dimana aku dan kau tidak peduli tentang hati. Handphone ku kembali
bergetar, kuterima satu pesan singkat mendamaikan yang diiringi redanya hujan.
“Maafin
aku kemarin. Itu cuma perasaan aku yang kurang komunikasi sama kamu dan lebih
konsen ke lainnya. Aku sayang kamu.”
“Aku
lebih.”
Hujan
reda, hatiku begitu sejuk. Bintang-bintang bermunculan satu per satu,
mengintipku yang telah lama menanti. Hari ini kau jelaskan semua, tak lagi
abu-abu seperti mendung. Tujuh bulan ini terasa begitu cerah malam ini. Ini bukan
akhir, ini awalnya. Aku bahkan tak ingin kisah ini berakhir bahagia, aku hanya
ingin kisah ini tak pernah berakhir.
Komentar
Posting Komentar