Dera

Hari ini, bel sekolah terdengar lebih nyaring dari biasanya. Suaranya bising dan mengganggu. Namun siswa-siswi dengan tergesa berlari memasuki ruang ekstrakulikuler masing-masing, kecuali aku. Aku berjalan di lorong sekolah dengan sangat santai dan tenang. Teman-teman yang berlarian di depanku pun telah menghilang dari pandangan mata. Kurasakan desiran angin sendu yang membalut nadiku. Kini kita menjadi kakak kelas yang mempunyai tanggung jawab sebagaimana mestinya kakak kelas itu sendiri.
Aku terdiam sejenak di sudut sekolah, terpaku mengetahui kenyataan yang kini menimpaku. Membawa ku ke angan semu yang tak pasti keasliannya. Pikiranku terenggut oleh hal-hal aneh yang kini ku rasa. Aku terjebak dalam kekonyolan persahabatan kita dan janji yang ku katakan sendiri. Ya janji, janji untuk selalu menjadikanmu sebagai prioritasku.
Ku dengar dentuman bola basket dari arah lapangan, segera saja ku berjalan menghampirinya. Bola basket, kecintaanmu. Dan benar saja, ada kau disana, kecintaanku. Lapangan basket masih terlihat sama saja dari biasanya, namun ada hal lain disalah satu sisinya yang memaksaku untuk mencari tahu. Lima siswi junior kita yang tanpa di komandani menatapku lekat dengan pandangan aneh.
Hari berlalu dengan cepat. Segala sesuatu berjalan dengan begitu harmonis. Diluar sana langit terlihat murung kelelahan dan melepas mendung di halaman. Kita bersandar pada dinding kelas yang dingin dan bisu.
"Ada apa ? " tanyamu.
" Apa ? " balasku heran.
" Kamu kenapa ? Nggak usah bohong, cerita sama aku ! "
" Apa ? Nggapapa. Ga mungkin cerita, nanti nangis," jawabku.
" Dasar cengeng ! " kau mencubitku, "yang tegar !" lanjutmu.
Percakapan kita tak berujung. Ku usik dan ku cari tahu isi tasmu untuk mengalihkan perhatianmu. Handphone, earphone, powerbank, tak ketinggalan parfum. Kita duduk berdampingan, bercakap riang mengisahkan kita.
Aku berkata, "Hari ini temanya..."
" Kamu ! " kau menyeka kata-kataku dan seketika aku menatapmu bingung.
" Iya, kamu, yang kemarin nangis," kali ini kau tertawa dengan nada menggoda.
" Apasih ah ? Dasar jelek ! Siapa yang nangis ? Sok tau ! "
" Kamu mau yang terbaik buat aku, tapi kamu ga mau yang terbaik buat dirimu sendiri ? Bodoh ! Apa gunanya seratus persen kalo tiga puluh persennya ngeberatin aku ? Aku pengen pindah, tapi aku berat ninggalin kota ini, kamu. " nada bicaramu tak serenyah beberapa detik yang lalu.
" Iya, iya, aku tau ! " kali ini aliran sungai tak terasa mengalir (lagi) di pipiku. Kau terdiam. Bisu. Hingga akhirnya tawa palsuku memecah keheningan yang menyayat itu. Namun kau masih tertunduk kaku, seakan acuh namun ku tahu kau berfikir keras.
Aku tahu senyummu yang terukir manis akhir-akhir ini tertindih pilu. Namun kau dengan sejuta caramu berhasil menyembunyikan lelahnya hidup terhadap orang-orang sekitarmu, kecuali aku. Di otakmu saat ini hanya ada kebebasan yang kau inginkan. Kebebasan yang dapat dicapai dengan mengorbankan banyak hal kesayanganmu termasuk teman-teman terdekatmu, aku.
Jujur saja, aku tak sanggup menahan hujan turun di kelopak mataku tiap kita, aku dan kamu, membahas tentang perpisahan yang mungkin dapat terjadi di antara kita. Aku bukan hanya tak ingin kehilanganmu, aku tentu saja juga tak ingin semua berubah berbeda. Aku tak ingin kita berada dalam jarak yang tak semestinya menjauhkan dan waktu tak dapat janjikan kita untuk berjumpa lagi. Aku tak ingin. Aku bahkan tak yakin jika aku mampu tanpamu. Aku tak sanggup~
Jika kita berpisah nanti, aku takut tak ada orang disana yang mengganggu hidupmu seperti aku. Menjadi parasit dalam keseharianmu. Haha. Aku takut tak ada orang yang memecah sepimu, mengikuti jejakmu, merangkul sendumu, mengarung harimu serta menikmati tawa renyahmu sekaligus.
" Cari pacar sana ! Biar kamu nggak kesepian ! " kataku tiba-tiba.
Kau menoleh, " Nanti aja waktu aku udah pindah, sebenernya pengen juga sih biar nggak sepi, tapi ya gimana ya... " tanyamu menggantung.
" Sepi ? Selama ini aku nggak ada di hidupmu ? " tanyaku dalam batin. Seketika nafasku tercekat, dadaku sesak, namun kali ini mati-matian aku menahan mataku berbicara.
" Pacaran kan bukan sekedar kemana-mana berdua, bukan sekedar ngilangin sepi, bukan sekedar malam mingguan bareng. Pacaran itu gimana kita bisa saling percaya, paham, lengkap ! " jelasku.
" Lengkap atau enggaknya seseorang kan beda-beda. Aku mau yang bisa sama-sama ngerti, yang bisa bareng-bareng nyelesein masalah satu sama lain," sanggahmu.
" Kalo itu mah ga perlu pacar. Orang-orang disekitarmu, walaupun ga banyak, tapi pasti ada yang sayang kamu, mau yang terbaik buat kamu, bahkan mau ngejadiin kamu prioritas utama dibanding dirinya sendiri. Pasti ada. "
Nadamu berubah menjadi lebih lambat dan terkesan menekankan, " Maka dari itu aku ga pingin pacaran. Aku udah punya kalian. "
" Kalian katamu ? Termasuk aku ? " keningku berkerut.
" Iya. Termasuk kamu. Kamu, yang sayang banget sama aku, yang mau yang terbaik cuma buat aku. "
Aku masih tercengang, "Dan lebih memprioritaskan kamu daripada diriku sendiri. Aku," kataku melanjutkan. Kau tersenyum tulus.
Percakapan kita mengulang kembali segala sesuatu di hari itu. Hari dimana aku mendapati junior kita menatapku yang sedang menantimu asik dengan bola basket menatapku tajam.  Benar saja, salah satunya mengidolakanmu. Bahkan kemarin lusa kau memperkenalkan aku dengannya. Addin.
" Aku jujur boleh ? " tanyaku.
Kau mengisyaratkanku untuk melanjutkan kata-kata. " Kemarin aku tanya ke dia, dia suka kamu karena apa dan dia jawab kalo dia ga punya alasan. Bagus. Tapi.. " kataku.
" Kenapa ? "
" Waktu aku tanya apa dia bener-bener suka sama kamu, dia jawab kalo otaknya suka sama kamu tapi hatinya belum bisa suka sama kamu. Buruk. " nadaku kali ini sedikit jengkel.
" Kenapa ? " katamu.
" Ya gimana ? Apa maksutnya coba ? Aku maunya yang fix suka, sayang sama kamu ! Ga setengah-setengah gitu. Gimana aku bisa ngelepasin kamu kalo gini ? Nggak bisa ! Apa maksutnya dia ? " suaraku meninggi.
Kau tersenyum tipis, menatapku dalam, dan menekankan kata-katamu seolah agar aku benar-benar memperhatikan, " Itu namanya, dia belum tulus. "
Memang banyak manusia yang menyukaimu dalam kata-kata, dalam kenyataannya mereka belum bisa benar-benar menunjukkan kesungguhannya. Sebagian besar dari mereka hanya menyukai rupa mu, posturmu, bahkan banyak yang hanya ingin menunjukkan bahwa mereka bisa memilikimu bersamaan dengan keinginan mereka untuk numpang tenar. Beberapa alasan yang menyeretku untuk terlibat dalam pertemananmu dengan orang-orang diluar sana.
" Kalo dia baik buat kamu, kenapa nolak ? " tanyaku.
" Kalo boleh bilang, jujur, masalah baik atau engga, lebih baik kamu daripada mereka, " kau terdiam sejenak, " tapi sayangnya aku lagi ga mau pacaran. "
" Maksutmu ? " batinku.
Percakapan kita berhenti disana. Menggantung diantara atmosfer yang berurai. Kita berpisah saat angin menggulung mendung. Menggelar udara segar tanah basah yang merekuk terpijak. Sekilas percakapanku denganmu, percakapan singkat dan sederhana yang menggantung dan hingga kini belum mampu ku pecahkan.

Komentar

Postingan Populer