Laut dan Kalut
Ingat tidak waktu kemari?
Treknya, sungguh kupikir aku akan mati sebelum sempat melihat pantai. Masuk jurang atau terjebak dalam lumpur, mungkin juga terpeleset ke kumpulan tumbuhan berduri yang rimbun.
Katamu jika nanti ada sungai berarti pantai sudah semakin dekat. Satu setengah jam sebelum akhirnya kita bertemu sungai, lama-kelamaan yang kuiinjak bukan lagi tanah tapi pasir dan pohon-pohon besar berubah jadi deretan bakau, terdengar juga nyanyian ombak, tahu-tahu kita sudah di pantai.
Kamu bilang lelah sekali dan kamu hampir mati. Aku juga. Kamu hanya tertawa.
“Kamu mau jadi apa?” tanyaku.
Katamu pohon, kemudian kau balik bertanya. Kujawab aku ingin menjelma udara.
“Kenapa?”
“Entah, kurasa, aku tak ingin melawatkan satu bagianpun dari segala yang kucintai.”
“Mari berkerja sama,” aku menoleh, “agar bumi tetap sejuk.” katamu melanjutkan.
Kamu diam memandangi laut, sungguh jika kau bawa stetoskop dan kau dengar detak jantungku setiap kali bersamamu maka kau akan terkejut. Suaranya lebih nyaring dari debur ombak Samudra Hindia dihadapanmu. Riuh sekali.
“Aku tak suka laut,” kataku, “aku takut tenggelam hiiiiii,” aku bergidik.
“Aku sudah pernah tenggelam.”
Aku memandangimu, kau mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Lucu ya. Baru saja aku juga tenggelam.” Aku masih terus memandangimu dan menantikan apa yang akan kau katakan kemudian, tapi kamu malah diam dan kembali memandang laut.
“Kamu suka laut ya?”
“Coba kuingat-ingat,” kamu seperti berpikir, “kalau ingatanku tidak menipu, maka aku tidak suka laut.”
“Tapi kamu menghayati sekali.”
“Aku takut kalau airnya meluap. Kalau kupandangi terus, paling tidak dia gantian takut untuk meluap,” kau nyengir kuda.
“Kalau dipandangi terus, dia nanti geer, dikiranya kamu telah jatuh cinta.”
“Biar saja, biar aku tak jadi satu-satunya yang geer disini. Lagi-lagi kita berhasil melewatinya bersama-sama.”
Aku bertanya siapa yang bodoh, aku yang bodoh atau kamu yang bodoh? Atau malah kita sama-sama bodoh? Berjuang hampir mati demi menuju tempat yang sesungguhnya tak benar-benar bisa membuat kita nyaman. Rasanya kita memang diciptakan dengan mukjizat kurang pandai memilih tujuan. Kau hanya memandangiku, lalu tersenyum.
“Sudah pasang. Apakah kita harus pulang?”
“Kurasa. Setidaknya kalau aku mati diperjalanan pulang, maka aku tak sendiri.”
“Aku belum mau mati,” kujawab sekenanya, “jangan tolol.”
Di perjalanan pulang kau menceritakan bagaimana kau tumbuh, katamu kamu ini anak nakal yang beruntung. Lalu kau menanyakan bagaimana denganku, dan aku cuma diam. Ada banyak sekali yang ingin kubicarakan, tapi rasanya beberapa hal akan lebih baik disimpan baik-baik ditumpukan langit ketimbang diceritakan pada manusia. “Kalau kau penasaran, cari tahu saja sendiri,” jawabku.
Setelah setahun, aku tiba-tiba ingat senyummu di pantai itu, kemudian berusaha mengingat apa yang terjadi hari itu dan menuliskannya agar tak lupa. Lucu juga ya kalu kuingat kita pernah sama-sama hampir mati. Kau tahu tidak? Sejak hari itu kau senyum, aku tak merasa ada yang lebih kuingini daripada senyummu. Aku seperti baru saja menenggak sekaleng nitrogren lalu seluruh organku beku, otakku beku, segalaku beku. Aku hanya ingin tetap terus seperti itu, memandangimu tersenyum, karena jika sampai kau tertawa maka kurasa duniaku akan segera runtuh saking tertawannya. Ah kau! Kalau aku punya ribuan hektar kebun ganja maka kupastikan tetap kupilih senyummu saja untuk kucandui, bolehkah?
Bolehkah?
“Aku di lantai dua, meja nomor empat,” kataku di telepon.
“Ah, si cantik yang berkencan dengan buku?”
“Ya,” aku celingukan mencarimu. Kau bilang akan segera menghampiriku dan menutup sambungan telepon.
Setelah beberapa purnama, akhirnya aku akan segera melihat senyummu lagi. Sungguh aku tak pernah seantusias ini, novel karya Natsume Soseki yang kubawa segera kututup, aku membenahi diri dan celingukan mencarimu.
Seseorang menepuk pundakku, aku berbalik. Kau tersenyum. Kita melepas rindu dengan peluk yang panjang dan haru yang sesak. Ternyata melepas rindu segila ini rasanya.
Treknya, sungguh kupikir aku akan mati sebelum sempat melihat pantai. Masuk jurang atau terjebak dalam lumpur, mungkin juga terpeleset ke kumpulan tumbuhan berduri yang rimbun.
Katamu jika nanti ada sungai berarti pantai sudah semakin dekat. Satu setengah jam sebelum akhirnya kita bertemu sungai, lama-kelamaan yang kuiinjak bukan lagi tanah tapi pasir dan pohon-pohon besar berubah jadi deretan bakau, terdengar juga nyanyian ombak, tahu-tahu kita sudah di pantai.
Kamu bilang lelah sekali dan kamu hampir mati. Aku juga. Kamu hanya tertawa.
“Kamu mau jadi apa?” tanyaku.
Katamu pohon, kemudian kau balik bertanya. Kujawab aku ingin menjelma udara.
“Kenapa?”
“Entah, kurasa, aku tak ingin melawatkan satu bagianpun dari segala yang kucintai.”
“Mari berkerja sama,” aku menoleh, “agar bumi tetap sejuk.” katamu melanjutkan.
Kamu diam memandangi laut, sungguh jika kau bawa stetoskop dan kau dengar detak jantungku setiap kali bersamamu maka kau akan terkejut. Suaranya lebih nyaring dari debur ombak Samudra Hindia dihadapanmu. Riuh sekali.
“Aku tak suka laut,” kataku, “aku takut tenggelam hiiiiii,” aku bergidik.
“Aku sudah pernah tenggelam.”
Aku memandangimu, kau mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Lucu ya. Baru saja aku juga tenggelam.” Aku masih terus memandangimu dan menantikan apa yang akan kau katakan kemudian, tapi kamu malah diam dan kembali memandang laut.
“Kamu suka laut ya?”
“Coba kuingat-ingat,” kamu seperti berpikir, “kalau ingatanku tidak menipu, maka aku tidak suka laut.”
“Tapi kamu menghayati sekali.”
“Aku takut kalau airnya meluap. Kalau kupandangi terus, paling tidak dia gantian takut untuk meluap,” kau nyengir kuda.
“Kalau dipandangi terus, dia nanti geer, dikiranya kamu telah jatuh cinta.”
“Biar saja, biar aku tak jadi satu-satunya yang geer disini. Lagi-lagi kita berhasil melewatinya bersama-sama.”
Aku bertanya siapa yang bodoh, aku yang bodoh atau kamu yang bodoh? Atau malah kita sama-sama bodoh? Berjuang hampir mati demi menuju tempat yang sesungguhnya tak benar-benar bisa membuat kita nyaman. Rasanya kita memang diciptakan dengan mukjizat kurang pandai memilih tujuan. Kau hanya memandangiku, lalu tersenyum.
“Sudah pasang. Apakah kita harus pulang?”
“Kurasa. Setidaknya kalau aku mati diperjalanan pulang, maka aku tak sendiri.”
“Aku belum mau mati,” kujawab sekenanya, “jangan tolol.”
Di perjalanan pulang kau menceritakan bagaimana kau tumbuh, katamu kamu ini anak nakal yang beruntung. Lalu kau menanyakan bagaimana denganku, dan aku cuma diam. Ada banyak sekali yang ingin kubicarakan, tapi rasanya beberapa hal akan lebih baik disimpan baik-baik ditumpukan langit ketimbang diceritakan pada manusia. “Kalau kau penasaran, cari tahu saja sendiri,” jawabku.
Setelah setahun, aku tiba-tiba ingat senyummu di pantai itu, kemudian berusaha mengingat apa yang terjadi hari itu dan menuliskannya agar tak lupa. Lucu juga ya kalu kuingat kita pernah sama-sama hampir mati. Kau tahu tidak? Sejak hari itu kau senyum, aku tak merasa ada yang lebih kuingini daripada senyummu. Aku seperti baru saja menenggak sekaleng nitrogren lalu seluruh organku beku, otakku beku, segalaku beku. Aku hanya ingin tetap terus seperti itu, memandangimu tersenyum, karena jika sampai kau tertawa maka kurasa duniaku akan segera runtuh saking tertawannya. Ah kau! Kalau aku punya ribuan hektar kebun ganja maka kupastikan tetap kupilih senyummu saja untuk kucandui, bolehkah?
Bolehkah?
“Aku di lantai dua, meja nomor empat,” kataku di telepon.
“Ah, si cantik yang berkencan dengan buku?”
“Ya,” aku celingukan mencarimu. Kau bilang akan segera menghampiriku dan menutup sambungan telepon.
Setelah beberapa purnama, akhirnya aku akan segera melihat senyummu lagi. Sungguh aku tak pernah seantusias ini, novel karya Natsume Soseki yang kubawa segera kututup, aku membenahi diri dan celingukan mencarimu.
Seseorang menepuk pundakku, aku berbalik. Kau tersenyum. Kita melepas rindu dengan peluk yang panjang dan haru yang sesak. Ternyata melepas rindu segila ini rasanya.
Ternyata menatapmu lagi selega ini rasanya.
Komentar
Posting Komentar