Wortel Terlezat di Dunia

Di sebuah bukit, bertemulah dua kelinci kecil yang baik hati, Cubi dan Piyo. Masing-masing dari mereka sedang mencari wortel terlezat di dunia. Menurut desas-desus di kampung kelinci, wortel terlezat di dunia ditanam di Kebun Guya. Sayangnya, tak ada satu kelincipun yang tahu di belahan bumi mana Kebun Guya berada. Mereka bertemu tanpa sengaja dan memutuskan untuk menemukan wortel itu bersama-sama. Dengan ketangguhan Cubi dan kesabaran Piyo, mereka yakin bahwa mereka dapat menemukan wortel tersebut bersama-sama.

Hari berganti hari, mereka saling mendukung, menopang satu sama lain ketika lelah menghampiri. Sesekali mereka berdebat, saling menyalahkan, namun mereka dapat melalui itu dengan baik. Mereka percaya bahwa kerja sama dan kompromi adalah hal yang perlu mereka lakukan disaat tersulit.

Di tengah perjalanan, Piyo menemukan pohon jeruk yang tinggi.
"Bagaimana ini, aku sangat menginginkannya tapi aku tidak bisa melompat lebih tinggi lagi?" kata Piyo.
"Kamu benar-benar menginginkannya ya? Kalau begitu naik ke punggungku dan cobalah raih jeruk itu, aku yakin kamu pasti bisa".
Cubi selalu banyak akal, Cubi ingin Piyo tidak menyerah dan percaya pada kemampuannya. Punggung Cubi sakit, namun melihat Piyo melahap jeruk-jeruk itu, Cubi merasa senang.

Kali ini, mereka menemukan kentang yang tertanam cukup kuat. Piyo tidak terlalu suka kentang, namun ia memikirkan bagaimana cara agar kentang tersebut dapat dimakan bersama Cubi, sebab ia tahu betul bahwa Cubi suka kentang.
"Bagaimana jika kita gali sedikit kemudian makan kentang itu sampai habis? Kita mungkin akan merasa kenyang dalam beberapa hari," pikir Piyo.
"Tidak, kita tidak tahu seberapa dalam kentang ini. Jika kentang ini langsung kita makan, bisa saja kita membuat lubang yang dalam dan tidak dapat keluar dari lubang itu. Selain itu, tubuh kita bisa saja tertimbun tanah. Bagaimana jika kita keluarkan kentang ini?" kata Cubi.
"Bagaimana bisa? Tidak ada kelinci lain di sini, tidak ada yang bisa membantu kita."
"Bisa, kau tahu sendiri selama ini selalu ada jalan keluar ketika kita berusaha bersama-sama. Sekarang ayo kita berpencar untuk mencari sesuatu yang bisa mempermudah kita."

Piyo kembali dengan membawa tali, Cubi kembali dengan sebuah ranting.
"Menurutmu bagaimana? " tanya Cubi.
"Aku pikir kita bisa menggunakan taliku. Tali bagian teratas kentang ini, kemudian kita naik ke atas pohon sehingga kita bisa menariknya dari atas pohon," sambut Piyo antusias.
"Kalau menurutku kita gunakan ranting ini dulu. Pertama kita gali sedikit bagian sampingnya untuk memberi kentang ruang gerak, kemudian kita pakai ranting ini sebagai tuas untuk mengeluarkan kentang ini dari dalam tanah. Bagaimana?"
"Lalu bagaimana dengan taliku? " tanya Piyo.
"Talimu tetap berguna, setelah kentang itu keluar kita bisa menggigitnya menjadi bagian yang lebih kecil. Sebagian kita makan, sebagian kita tali menjadi satu untuk perbekalan kita di perjalanan ini".
Piyo sedih, lagi lagi Cubi banyak akal. Ia merasa kecil hati terhadap Cubi yang banyak akal.

Seiring berjalannya waktu, Cubi yang tangguh sering mengkhawatirkan keadaan Piyo. Piyo tidak lemah, namun Cubi terlalu takut apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Piyo di perjalanan menemukan wortel itu.
Hingga pada suatu hari ketika mereka bertemu aliran sungai Cubi berkata, "Perjalanan ini panjang, aku khawatir kamu sakit, atau terbawa arus sungai itu, sedangkan kita ingin bersama-sama menemukan wortel itu."
Piyo sedih, dia hanya ingin melepas penat sejenak dengan bermain di sungai, apa salahnya?
Piyo memahami kekhawatiran Cubi, namun Piyo merasa Cubi tak perlu mengkhawatirkannya seperti itu. Itu sungai yang dangkal, Piyo bahkan pandai melompati bebatuan yang tertidur di sungai itu.

Kali ini banyak yang terpendam di dalam hati Piyo, perasaan kecil hati hingga perasaan terlalu diawasi, perasaan-perasaan yang tak pernah diungkapkan oleh Piyo sebelumnya.  Kali ini mereka berselisih paham namun Piyo memilih untuk menyimpannya dalam benak. Tak ada diskusi seperti biasanya, tak ada kompromi. Hingga suatu hari, Piyo memutuskan untuk istirahat di bawah pohon besar untuk menenangkan hatinya.

Cubi yang belum mampu membaca situasi dan suasana hati Piyo, memaksanya untuk terus berjalan. Namun melihat Piyo yang hanya diam, Cubi menjadi kesal.
"Kamu akan akan terus menerus berdiam diri di sini? Sedangkan perjalanan kita masih panjang, " kata Cubi penuh kesal.
"Maafkan aku," balas Piyo.
"Bagaimana bisa kamu minta maaf dan hanya berdiam diri? Kamu harus mulai berjalan."
Piyo hanya diam tak menghiraukan. Ada banyak hal yang tak mampu diungkapkan Piyo karena ia merasa pola pikir Cubi lebih hebat darinya dan itu membuatnya takut.

Cubi masih belum mampu memahami keadaan Piyo, lagi-lagi dengan penuh kesal ia meminta Piyo terus berjalan.
"Aku ingin istirahat sebentar," kata Piyo.
"Tapi kenapa? Kita akan berjalan dan berusaha bersama untuk menemukan wortel itu".
"Aku lelah. Aku ingin kita berhenti sejenak."
"Tapi aku ingin kita terus berjalan."
"Maafkan aku, selama ini aku lelah dan takut mengatakannya padamu. Selama ini aku terus berpikir apakah aku mampu mengambil jalan keluar yang baik. Sebab selama ini, kamu selalu memberi jalan keluar terhadap apa yang aku lalui. Aku ingin mencobanya sendiri tanpa kamu perlu mengkhawatirkanku," kata Piyo.
"Apakah kita tidak dapat terus berjalan dan berusaha bersama-sama? Bukankah selama ini kita bekerja sama? Bukankah selama ini kita telah berusaha bersama-sama?" Cubi mulai menangis. Di benaknya terlintas segala hal yang selama ini tak disadarinya telah menyakiti Piyo.
"Aku ingin istirahat sebentar, aku hanya ingin istirahat sebentar."

Cubi berusaha memahami keinginan Piyo untuk istirahat sebentar. Mereka membuat jarak untuk berpikir. Walaupun sering kali, Cubi ingin sekali menyapa Piyo dan memastikan keadaan Piyo baik-baik saja.

Selama ini, dalam benak Cubi, Cubi hanya ingin Piyo menjadi lebih percaya diri dan yakin bahwa Piyo mampu melalui banyak hal di depan nanti. Ia juga mengkhawatirkan Piyo agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Piyo. Cubi hanya ingin yang terbaik untuk Piyo.

Namun setelah Piyo meminta istirahat, dalam kesendirian, Cubi mulai menyadari bahwa ia sering kali menyakiti hati Piyo. Ia mulai menyadari bahwa ia suka memaksa dan jarang mengalah. Ia mulai menyadari bahwa kekhawatirannya terhadap Piyo terlalu berlebihan. Ia mulai menyadari bahwa caranya menjaga Piyo salah.
Cubi sangat ingin meminta maaf kepada Piyo dan mengubah sikap buruknya terhadap Piyo.

Di sisi lain Piyo, ...


mohon maaf bersambung karena aku lagi mikirin endingnya wkwk

Komentar

Postingan Populer