Muara : November
Banyak rasa sakit. Ternyata mengurai benang yang kusut di kepala sesulit itu. Padahal aku meminta petunjukmu agar lebih mudah mengurai, tidak sedang memaksamu membalas perasaan.
Lelaki yang kulihat hari itu kamu, kan? Aku yakin sekali kali ini bukan asumsi. Kamu ada dan nyata, tapi jangan tanya kenapa tidak menyapa, sebab pesanku saja hanya berakhir terbaca. Ditambah lagi, sebelum kembali ke Jakarta-mu kamu bilang, "Ajak ketemu aku juga gamau". Kamu juga bilang bahwa sudah tidak ada lagi rasa percaya terhadapku. Sedikit, tapi sepertinya cukup menjelaskan bagaimana kamu kepadaku. Pembukaan November yang sangat buruk ya? Benar-benar banyak rasa sakit, bahkan ketika membaca ulang pesanmu ditulisan ini pun rasanya nyeri sekali.
Aku melewatkan sesuatu untuk kuceritakan; ada laki-laki yang memintaku untuk menemaninya seumur hidup. Hari itu aku ingin sekali kabur ke hadapanmu menumpahkan banyak air mata, tapi bagaimana mungkin jika sudah terlebih dahulu kamu remukkan hatiku. Laki-laki itu kujawab dengan air mata yang membanjir bahwa ada seseorang dihatiku, seseorang yang tidak ada aku dihatinya, seseorang yang membuat aku dengan senang hati membuang waktu.
Aku paham benar bahwa perasaanku membuatmu tidak nyaman. Kemudian kita membuat jarak. Bukan, bukan kita, lebih tepatnya aku. Sampai suatu ketika obrolan kita kembali seperti dulu. Seperti waktu itu, saat akhirnya untuk pertama kali kita berbagi gambar, perhatian kecil, cerita diri, bahkan hal-hal tidak penting lainnya. Lagi-lagi kamu membuat aku merasa ditemani. Atau malah, aku merasa ditemani karena aku ingin kamu yang menemani?
Tapi aku memutuskan untuk berhenti. Perasaanku tetap ada, mungkin makin bertumbuh, hanya saja kupilih berhenti menunjukkannya. Semoga dengan begitu kamu dapat menjadi lebih nyaman.
Komentar
Posting Komentar