Di Semesta

Tulisan ini mengalir melalui bait-bait lagu Hati-Hati Di Jalan karya Tulus yang tanpa sengaja jadi lebih sering terputar beberapa hari ini (Maret, 2022).

Entah, berapa kali kuputar, namun yang muncul di kepala selalu sosok yang kukenal akhir 2020. Namanya indah sekali, Diarci, kalau kuartikan mungkin namanya jadi Di Semesta. 

Aku kurang mengerti kenapa si Manusia Semesta lagi yang muncul di ingatan tiap lagu ini menelisik lewat udara dan sampai di liang telinga. Tapi jika ingatanku kutarik kembali ke hari-hari itu, hari di mana aku menanti untuk jadi kita, maka bersamanya saat itu adalah hari yang selalu sangat menyenangkan, pun penuh dilema; sebab seperti tak ada aku di sketsa harapannya.

Lalu dengan sangat berhati-hati aku berjalan mundur agar tidak menyakiti hatiku sendiri. Ternyata tetap saja, setelah kupikir berulang kali, berjalan mundur dan melanjutkan perjalanan di jalan yang kupilih sendiri tanpa pernah menanyakan padanya tentang bagaimana ia kepadaku atau sekadar menyampaikan isi hatiku; menyakitiku.
Semesta, jika suatu hari nanti tiap kata dalam tulisan ini sampai dimatamu, kuharap keadaanmu sedang sangat baik-baik saja.

Aku ijin mengingatmu ketika lagu ini terngiang di kepala ya?  Semoga kamu berada dalam keadaan sehat dan senang selalu dimanapun berpijak.

Komentar

Postingan Populer